Langsung ke konten utama

Makalah Teori Kognitif Dan Teori Humanisme Dalam Pembelajaran

 Makalah Teori Kognitif dan Humanisme Dalam Pembelajaran

Mataram, 08 April 2022.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Belajar Kognitif
Teori kognitif adalah merupakan bagian terpenting dari sains, kognitif yang telah memberi 
kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan pendidikan. Sains kognitif merupakan 
himpunan disiplin yang terdiri atas ilmu-ilmu komputer, linguistik, intelegensi buatan, 
matematika, epistimologi, dan neuropsychology (psikologi syaraf).
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan pada arti penting proses internal mental 
manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat 
diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesengajaan, 
keyakinan, dan sebagainya. 

Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada dasarnya adalah peristiwa mental, bukan 
behavioral (jasmaniah) meskipun hal-hal bersifat bihavioral tampak nyata dalam setiap siswa 
belajar. Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya tentu 
menggunakan perangkat jasmaniah, untuk menggucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan 
tetapi perilaku mengucapkan dan menggoreskan pena yang dilakukan anak tersebut bukan 
semata-mata respon atas stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena dorongan 
mental yang diatur oleh otaknya. 

2.2 Pembagian Teori Kognitif

2.2.1 Teori Kognitif Gestalt
Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Rahyubi (2012: 77) 
menyatakan bahwa peletak dasar teori gestalt adalah Max Werheimer (1880-1943) yang 
meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Kaum Gestaltis berpendapat bahwa 
pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Menurut pandangan 
Gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan dalam situasi 
belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman 
dan ganjaran.

Penerapan teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain adalah sebagai berikut:
(1) Pengalaman tilikan (insight), bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku
(2) Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), kebermaknaan unsur-unsur yang 
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran
(3) Perilaku bertujuan (pusposive behavior), bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan 
hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang 
ingin dicapai
(4) Prinsip ruang hidup (life space), bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan 
lingkungan dimana seseorang berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya 
memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik
(5) Transfer dalam belajar, yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran 
tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap 
prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian 
digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya 
dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang 
diajarkannya.

2.2.2 Teori Belajar Cognitive Field dari Lewin
Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan baik 
yang dari dalam diri individu (seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan) maupun dari luar 
diri individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut Lewin belajar berlangsung sebagai 
akibat dari 12 perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif tersebut adalah 
hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari 
kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting pada 
motivasi dari pada reward (Dalyono, 2012: 36).

2.2.3 Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget
Piaget adalah seorang psikolog developmental dengan suatu teori komprehensif tentang 
perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Karena, kemampuan belajar individu 
dipengaruhi oleh tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur individu. Menurut Piaget, 
pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang 


sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif melainkan kualitatif 
(Dalyono, 2012: 37). 

Pada dasarnya konsep pembelajaran kognitif disini menuntut adanya prinsip-prinsip utama, 
yaitu sebagai berikut: 
(1) Pembelajaran yang aktif, maksudnya adalah siswa sebagai subyek belajar menjadi faktor 
yang paling utama. Siswa dituntut untuk belajar dengan mandiri secara aktif
(2) Prinsip pembelajaran dengan interaksi sosial untuk menambah khasanah perkembangan 
kognitif siswa dan menghindari kognitif yang bersifat egosentris
(3) Belajar dengan menerapkan apa yang dipelajari agar siswa mempunyai pengalaman dalam 
mengeksplorasi kognitifnya lebih dalam. Tidak melulu menggunakan bahasa verbal dalam 
berkomunikasi
(4) Adanya guru yang memberikan arahan agar siswa tidak melakukan banyak kesalahan dalam 
menggunakan kesempatannya untukmemperoleh pengetahuan dan pengalaman yang positif
(5) Dalam memberikan materi kepada siswa diperlukan penstrukturan baik dalam materi yang 
disampaikan maupun metode yang digunakan. Karena pengaturan juga sangat berpengaruh pada 
tingkat kemampuan pemahaman pada siswa
(6) Pemberian reinforcement yang berupa hadiah dan hukuman pada siswa. Saat melakukan hal 
yang tepat harus diberikan hadiah untuk menguatkan siswa untuk terus berbuat dengan tepat.
(7) Materi yang diberikan akan sangat bermakna jika saling berkaitan karena dengan begitu 
seseorang akan lebih terlatih untuk mengeksplorasi kemampuan kognitifnya
(8) Pembelajaran dilakukan dari pengenalan umum ke khusus (Ausable) dan sebaliknya dari 
khusus ke umum atau dari konkrit ke abstrak (Piaget)
(9) Pembelajaran tidak akan berhenti sampai ditemukan unsur-unsur baru lagi untuk dipelajari, 
yang diartikan pembelajaran dengan orientasi ketuntasan
(10) Adanya kesamaan konsep atau istilah dalamsuatu konsep bias sangat mengganggu dalam 
pembelajaran karena itulah penyesuaian integratif dibutuhkan


2.3 Pengaruh Teori Kognitf terhadap Proses Belajar
Sebelum mengarah pada pengaruh teori ini dalam proses belajar, akan dikemukakan 
terlebih dahulu tentang definisi dari proses belajar itu sendiri, bahwa proses belajar adalah kata 
yang berasal dari bahasa latin proccessus yang berarti “berjalan kedepan”. Kata ini mempunyai 
konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut 
Chaplin (Syah, 2009: 109) 

2.4 Penerapan Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitasbelajar yang 
berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan 
pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam 
merumuskan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam 
pendekatan behavioristik. 
Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar 
belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedang kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip 
sebagai berikut:
(1) Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berpikirnya. Siswa mengalami 
perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu
(2) Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika 
menggunakan benda-benda konkrit
(3) Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan 
mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat 
terjadi dengan baik
(4) Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengalaman atau 
informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki
(5) Pemahaman dan retensi akan meningkatkan jika materi pelajaran disusun dengan 
menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks
(6) Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, 
informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh 
siswa. Tugas guru adalah menunjukan hubungan antara yang sedang dipelajari dengan apa yang 
telah diketahui siswa.


2.5 Teori Psikologi Humanistik

2.5.1 Pengertian Psikologi Humanistik
Teori Psikologi humanistik ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan seeutama para pendidik menurut 
humanistik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu 
masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan 
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Jadi, teori belajar 
humanisme adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana 
memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
Menurut Ratna Wilis Dahar (Dahar, 2011)
Teori belajar humanisme menganggap bahwa keberhasilan belajar terjadi jika peserta 
didik memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami 
perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,bukan dari sudut pandang pengamatnya. Peran 
pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya,yaitu membantu 
masing-masig individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan 
membantu mereka dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Herpratiwi (Herpratiwi, 2009) 
Psikologi humanistik terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu 
dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada 
pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistis penyusunan 
dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Gerakan 
munculnya psikologi humanistik disebabkan oleh semacam kesadaran bersama beranggapan 
bahwa pada dasarnya tidak ada teori psikologi yang berkemampuan menjelaskan manusia 
sebagai suatu totalitas dan yang sewajarnya mengfungsikan manusia. Mereka meyakini bahwa 
tiap individu pada dasarnya mempunyai kapasitas serta dorongan sendiri untuk 
mengembangkan potensi kemanusiaannya 

2.5.2. Tujuan Belajar Menurut Teori Psikologi Humanistik
Menurut teori humanistik belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan
memanusiakan manusia. Teori belajar humanistik sifatnya abstrak dan lebih mendekaji kajian
filsafat. Teori ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep. Dalam teori pembelajaran 


2.5.4 Prinsip dasar Teori Humanistik
Menurut Dakir (Dakir, 1993), Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme 
mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: 
1. Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah 
terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi 
pengalaman baru
2. Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan 
peserta didik
3. belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, 
4. belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar 
lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, 
5. belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun perasaan 
akan lebih baik dan tahan lama, dan
6. kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan 
evaluasidiri orang lain tidak begitu penting.

2.6 Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanisme

2.6.1 Kelebihan teori Humanisme 
Menurut Asri Budiningsih (Budi ningsih, 2005) kelebihan teori humanistik adalah, 
a. Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan 
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.
b. Menurut aliran humanisme: individu itu cenderung mempunyai kemampuan / keinginan 
untuk berkembang dan percaya pada kodrat biologis dan ciri lingkungan
c. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif 
dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
d. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan 
mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain 
atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
e. Aliran humanisme tidak menyetujui sifat pesimisme, dalam aliran humanisme individu itu
memiliki sifat yang optimistik 
f. Teori Humanistik sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada 
dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan 
selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi￾taksonomi tujuan yang dirumuskan dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami 
hakikat kejiwaan manusia.

2.6.2 Kekurangan teori humanism
Menurut Asri Budiningsih (Budiningsih, 2005) kekurangan teori humanistik adalah
a. Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
b. Terlalu memberi kebebasan pada siswa.
c. Teori humanisme terlalu optimistik secara naif dan gagal untuk memberikan pendekatan pada 
sisi buruk dari sifat alamiah manusia 
d. Teori humanisme, seperti halnya teori psikodinamik, tidak bisa diuji dengan mudah 
e. Banyak konsep dalam psikologi humanisme, seperti misalnya orang yang telah berhasil 
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
f. Beberapa kritisi menyangkal bahwa konsep ini bisa saja mencerminkan nilai dan idealisme 
Maslow sendiri. 
g. Psikologi humanisme mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis 
h. Teori humanisme ini dikritik karena sukar digunakan dalam konteks yang lebih praktis. Teori 
ini dianggap lebih dekat dengan dunia filsafat daripada dunia pendidikan.
i. Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran, guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir 
induktif, mementingkan pengalaman serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam 
proses belajar.
j. Teori humanisme masih sukar diterjemahkan kedalam langkah-langkah yang praktis dan 
operasional









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Butir Pengamalan Sila Kelima dalam TAP MPR

  Butir Pengamalan Sila Kelima dalam TAP MPR Nomor I/MPR/2003 Butir-butir sila kelima Pancasila melalui TAP MPR Nomor I/MPR/2003 sebagai berikut: Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan Mengembangkan sikap adil terhadap sesama Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban Menghormati hak orang lain Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum Suka bekerja keras Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Berikut adalah beberapa contoh penerapan nilai keadilan dalam berbagai lingkungan. Penerap...

Butir Pengamalan Sila Ketiga dalam TAP MPR

  Butir Pengamalan Sila Ketiga dalam TAP MPR Nomor I/MPR/2003 Pengamalan nilai-nilai pancasila sila ketiga dijabarkan dalam butir-butir sesuai TAP MPR Nomor I/MPR/2003, sebagai berikut: Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi serta golongan Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara serta bangsa apabila diperlukan Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Nilai persatuan dalam sila ketiga Pancasila juga harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa contoh penerapannya: Penerapan nilai persatuan di rumah a. Menanamkan jiwa dan semangat...

Materi Perkembangan Filsafat Barat

Sejarah perkembangan Filsafar Barat         Perkembangan filsafat barat banyak ditemukan masalah yang telah dientaskan oleh banyak filusuf dimasanya, dan sejalan dengan keadaan itu pula aliran filsafat barat berkembang begitu pesat dan mampu menguasai bahkan mewarnai pemikiran manusia dalam periode tertentu.Sejarah perkembangan filsafat barat itu dibagi kedalam tiga periode, yaitu zaman klasik (yunani), filsafat abad pertengahan dan filsafat abad modern. Berikut akan dijelaskan masing-masingnya: 1.1 Filsafat Zaman Klasik        Hal ini dimulai sekitar tahun 600 SM yaitu di suatu kota bernama yunani yang terkenal dengan para ilmuwan-ilmuwannya. Awal mulanya para filosof Yunani memusatkan perhatiannya pada dunia diluar diri pribadi mereka yakni terahadap alam semesta (cosmos). Melalui ini maka berkembanglah suatu filsafat yang disebut dengan filsafat alam. Dengan ini para filosof mulai memperdebatkan tentang asal mula segala sesuatu yang ada di bumi...