Langsung ke konten utama

Makalah Masalah Pembelajaran

 


BAB II 

PEMBAHASAN


A. Pengertian masalah belajar

Masalah belajar atau yang disebut dengan kesulitan belajar atau menurut istilah asing learning disorder atau learning difficulty merupakan kondisi yang tidak diharapkan oleh peserta didik. Akan tetapi pada kasus-kasus tertentu karena peserta didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka muncullah masalah belajar dalam diri peserta didik dan bantuan guru atau orang lain sangat dibutuhkan bagi peserta didik tersebut ( Andi Setiawan, 2017 : 146 ).

Masalah belajar sudah menjadi hal umum atau klasik dalam dunia pendidikan, baik dari tingkat paling rendah hingga paling tinggi pasti dijumpai adanya masalah belajar. Beberapa orang memiliki pandangan yang salah kaitanya dengan masalah atau kesulitan belajar. Pandangan tersebut menyatakan bahwa kesulitan belajar disebabkan karena rendahnya tingkat inteligensi pada peserta didik. Akan tetapi inteligensi yang tinggi belum tentu menjamin hasil belajar yang baik, karena banyak dijumpai kasus anak yang memiliki inteligensi yang tinggi tetapi memiliki hasil belajar yang rendah dan ada pula anak yang memiliki inteligensi normal tetapi hasil belajarnya tinggi.

Dalam bukunya M. Andi Setiawan, Martini Jumaris memberikan pengertian tentang kesulitan belajar merupakan suatu kelainan yang membuat individu yang bersangkutan sulit untuk melakukan kegiatan belajar secara efektif ( 2017: 149 ). Sedangkan dalam bukunya Syarifan Nurjan, Betty memberikan pengertian tentang kesulitan belajar merupakaan suatu bentuk gangguan dalam suatu atau lebih dari faktor pisik dan psikis yang mendasar yang meliputi pemahaman atau penggunaana bahasa, lisan atau tulisan yang dengan sendirinya muncul sebagai kemampuan tidak sempurna untuk mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis atau membuat perhitungan matematikal, termasuk juga kelemahan monitorik ringan, gangguan emosional atau akibat keadaan ekonomi, budaya atau lingkungan yang tidak menguntungkan ( 2016 : 161 ).

Dari pengertian diatas masalah belajar adalah gangguan yang terjadi pada peserta didik, sehingga merupakan penyebab dari peserta didik mengalami suatu keterbelakangan dalam proses belajar dan pembelajaran untuk menerima pelajaran secara komprehensif , baik dalam pendidikan formal dan informal.  Dan juga masalah belajar pada peserta didik dalam proses belajar, bukan hanya masalah itu pada peserta didik namun munculnya masalah belajar karena faktor karena metode pengajar atau guru yang tidak bisa beradaptasi dengan peserta didik baik dari segi psikologis dan taraf inteligensi.


B. Jenis- jenis masalah belajar


       Masalah belajar merupakan suatu keadaan yang hampir dialami oleh semua peserta    didik. Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar yang maksimal ( Syarifan Nurjan, 2016 : 181 ).

Masalah merupakan suatu kondisi yang seluruh manusia pernah mengalami, mulai dari masalah sosial, ekonomi, politik, hak asasi manusia dan tidak terkecuali dunia pendidikan. Sekolah sebagai tempat proses belajar bagi manusia tidak jarang peserta didik mengalamai masalah belajar. 

Kesulitan belajar mencakup pengertian yang luas dan termasuk learning disorder, learning disfunction, underachiever, slow learner dan learning difabilities. Tetapi disini akan diuraikan tiga jeni masalah belajar yakni Learning Difabilitie, underachivier, dan slow learner.


1. Learning Difabilities

a) Pengertian Learning Difabilities

Learning Difabilities ( DL ) adalah ketidakmapuan seseorang yang mengacu pada gejala dimana anak tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajarnya dibawah potensi intelektualnya. Anak laki-laki dan perempuan LD adalah individu yang mengalami gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar dan disfungsi sistem syarat pusat atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan yang nyata.

Ternyata dengan adanya gangguan sel syaraf pada individu manusia menjadi suatu penghambat dalam proses belajar bagi manusia pada umumnya dan peserta didik lebih khususnya. Karena syaraf sebagai suatu organ tubuh untuk menerima mengolah, dan menyampaikan rangsangan dari seluruh organ.

b) Ciri-ciri Learning Difabilities

Ciri-ciri learning difabilities yang bisa kita kategorikan sebagai learning difabilities antara lain:

1. Daya ingatan terbatas ( relatif kurang baik )

2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca.

3. Lambat dalam mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.

Ciri-ciri diatas merupakan sebagian ciri dari seluruh ciri-ciri yang pernah ditulis oleh beberapa ahli psikologi belajar. Jika terdapat ciri-ciri tersebut pada peserta didik maka peserta didik itu menglami masalah learning difabilities.


c) Faktor-faktor penyebab learning disabilities


Penyebab disabilities hingga kini belum diketahui secara pasti, meski beberapa penelitian menunjukkan bahwa :

Faktor keturunan ( genetik ) dan gangguan kordinasi pada otak adalah pemicunya, tapi hal itu tidak terlalu penting karena pada dasarnya disleksia tidak disebabkan pola asuh yang salah. Orang tua harus mengenali gangguan tersebut sejak dini dan membantu anak mengatasi kesulitan baca tulisnya.

Kira-kira 14 area di otak berfungsi saat membaca, ketidak mampuan dalam belajar disebabkan karena terdapat gangguan di area  otaknya. Pesan yang terkirim ke otak tampaknya berubah menjadi tidak beraturan dan kacau. Penderita difabilities dapat mendengar dan melihat dengan baik, namun apa yang mereka dengar dan lihat tampaknya berbeda dengan apa yang dilihat dan didengar oleh kebanyakkan. ( Syarifan Nurjan 2016 : 182,183 )

Faktor merupakan suatu keadaan yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada peristiwa. Faktor learning disabilities disini adalah karena faktor genetk yang memang keadaannya sudah alamiah pada seseorang peserta didik dan faktor tidak bekerjanya beberapa saraf otak pada peserta didik.


2. Underachivier 


a) Didalam bukunya Syarifan Nurjan, Rimm berpendapat kalau underachivier jauh lebih kompleks dibandingkan dengan prestasi kurang. Namun konsep underachivier lebih berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang. ( 2016 : 184 ).

Di indonesia belum ada definisi yang baku tentang underachivierment ini. Para guru umunya memandang semua siswa/siswi yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa yang underachivierment. 

b) Ciri-ciri Underachivier

Peserta didik yang termasuk underachiever biasanya menunjukkan ciri-ciri berikut ini.

1. Lebih banyak mengalami kekecewaan dan mampu mengontrol diri terhadap kecemasannya.

2. Kurang mampu menyesuaikan diri dan kurang percaya pada diri sendiri.

3. Kurang mampu mengikuti otoritas. ( Syarifan Nurjan : Haniah, 2016 : 185 ).

Ciri-ciri diatas merupakan sebagian dari ciri-ciri yang di jelasakan oleh ahli. Dengan melihat hakikat pendidikan hakikatnya adalah transformasi sosial,  jika ciri-ciri diatas terdapat pada peserta didik maka itu adalah suatu masalah bagi peserta didik dalam belajar dan pembelajaran.

c) Faktor-faktor penyebab Underachivier

1. Rendahnya dukungan orang tua 

Orang tua merupakan tokoh yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan anak. Dukungan orang tua adalah bantuan baik material mauppun non material yang diberikan orang tua dalam mendukung prestsi belajar anak.

2. Kebiasaan belajar

Kebiasaan belajar merupakan kebiasaan penting dalam menentukan efektif tidaknya usaha belajar yang dilakukan seseorang. Berhasil atau tidaknya anak dalam belajar ditentukan oleh mantap atau tidaknya cara belajar yang dilakukannnya.

3. Lingkungan belajar

Siswa atau siswi yang memiliki kemapuan intelektual yang tinggi, antara lain , memiliki dorongan untuk berkembang, belajar, maju, serta dorongan untuk di akui, disayangi, diterima dan dihargai sebagai suatu kompleksitas kebutuhan yang dapat dijabarkan dari kemampuannya, maka perwujudan lingkungan belajar yang kondusif harus berkembang,bersama dalam kegiatan yang menghubungkan proses belajar dengan tingkat keberhasilan siswa atau siswi. ( 2016 : 187 )

3 .  Slow Learn

a) Pengertian Slow learner

Slow learner adalah siswa atau siswi yang lambat dalam proses belajar sehingga iya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan sekelompok siswa atau siswi yang memiliki taraf.

Slow learner merupakan suatu masalah ang dihadapi peserta didik yang mampu menghambat proses transformasi keilmuan dalam bangku pendidikan formal dan informal.

b) Ciri-ciri slow learner

Pada umumnya anak yang lambat belajar adalah anak yang mempunyai kecerdasan dibawah rata-rata, tetapi tidak sampai pada taraf imbisial atau idiot. Gejala-gejala anak yang lambat belajar antara lain berikut ini :

1. Perhatian dan konsentrasi singkat

2. Reaksinya lambat 

3. Kemampuannya terbatas untuk mengerjakan hal-hal yang abstrak dan menyimpulkan .

c) Faktor-faktor penyebab slow learner

        Kelainan tingkah laku anak yang tergolong dalam slow learner adalah menggambarkan adanya sesuatu yang kurang sempurna pada pusat susanan syarafnya, kemungkinan ada sesuatu syaraf yang tidak berfungsi lagi karena telah mati atau setidak tidaknya menjadi lemah. 

Apabila ditinjau dari segi waktu maka sebab sebab terjadinya slow learner diklasifikasikan menjadi tiga masa waktu sebelum kelahiran, kelahiran dan setelah di lahirkan.

Ciri-ciri diatas merupakan bentuk masalah belajar yang di kategorikan sebagai slow learner. Slow learner hampir terdapat pada peserta didik yang menjadi suatu masalah dalam proses pendidikannya.

C. Faktor faktor masalah belajar ?

Faktor – faktor masalah belajar dapat dogolongkan kedalam dua golongan, yaitu berikut ini.

1. Faktor intern ( faktor dari dalam diri manusia ) yang meliputi

a. Faktor Psiologi

1) Karena sakit

2) Karena Kurang sehat

3) Karena cacat tubuh 

b. Faktor Psikologi

1) Inteligensi

2) Bakat

3) Minat

4) Motivasi

5) Faktor kesehatan mental

2. Faktor Ekstern ( Faktor dari luar diri manusia )

a. Faktor- faktor sosial

1) Faktor Media 

2) Lingkungan Sosial

a. Teman Bergaul

b. Lingkungan Tetangga 

c. Aktivitas Dalam Masyarakat

b. Faktor-faktor non sosial

1) Faktor keluarga

a. Faktor kelurga

b. Suasana kelurga

c. Keadaan ekonomi

2) Faktor sekolah

a. Faktor guru

b. Faktor alat 

c. Kondisi gedung

d. Kurikulum

e. Waktu sekolah atau kurang disiplin

  Diatas merupakan faktor faktor masalah belajar yang terpengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pada kehidupan peserta didik, suatu keadaan yang timpang mempu mempengaruhi anak dalam proses belajar dan pembelajaran. 

 D.Mengenal dan mengatasi kesulitan belajar siswa

Dalam pelaksanaan tugas pembelajaran,guru tidak hanya berkewajiban menyajikan materi pelajaran dan mengevaluasi pekerjaan siswa akan tetapi bertanggung jawab terhadap pelaksaan bimbingan belajar. Sebagai pembimbing belajar siswa,guru harus mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan instruksional akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Melalui pendekatan pribadi ,guru akan secara langsung mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam sehingga  dapat memperoleh hasil belaajr yang optimal.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap guru adalah sebagaai pengajar sekaligus berperan sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar. Abdilah (2008),Mengemukakan bahwa sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar,seorang guru diharapkan mampu :

1.Memberikan informasi yang diperlukan dlaam proses belajar

2.Membantu setiap siswa dalam mengatasi setiap masalah pribadi yang dihadapinya

3.Memberikan setiap kesempatan yang memadai agar setiap murid dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya

4. mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun secara kelompok.

Agar bimbingan belajar lebih terarah dalam upaya membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar, maka perlu kita perhatikan langkah langkah sebagai berikut :

1.Identifikasi 

Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar,yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut :

a. Data dokumen hasil  belajar siswa

b. Mengadakan wawancara dengan siswa

c. Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahan belajar

d. Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang  sedang dihadapi.

2.Diagonis

Diagonis adalah keputusan atau penentuan mengenai dari hasil pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang  dialami siswa.diagnosis ini dapat berupa hal hal sebagai berikut : 

a. keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa

b. keputusan mengenai faktor faktor yang menjadi sumber sebab sebab  kesulitan belajar 

c. keputusan mengenai jenis mata pelajaran yang mengalami kesulitan belajar

3.prognosis

Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan daapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. prognosis ini dapat berupa : 

a. bentuk treatment yang harus diberikan

b. bahan atau materi yang diperlukan

c. metode yang akan digunakan

d. alat bantu belajar mengajar yang dibutuhkan

e. waktu kegiatan dilaksanakaan

4.terapi atau pemberian bantuan

Terapi disini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis .adapun dampak terapi yang dapat diberikan antara lain melalui:

a. bimbingan belajar kelompok

b. bimbingan belajar individual

c. pengajaran remedial

d. pemberian bimbingan pribadi

e. alih tangan kasus

5.tindak lanjut atau follow up

Tindak lanjut atau follow up adalah usaha untuk meengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjut nya yang didasari hasil evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan. 


E.Solusi dari masalah belajar yaitu :

a.Mengajak siswa untuk aktif saat proses pembelajaran

b.Menciptakan suasaana belajar yang menyenangkan

c.Menemani anak pada saat proses pembelajaaran

d.Mengadakan kerja kelompok

e.Memberikan pujian pada seorang murid

f.Berhenti membandingkan anak dengan anak orang lain. 



DAFTAR PUSTAKA


M. Andi Setiawan, M.Pd, Uwais Inspirasi Indonesia, Ponorogo2017.

Syarifan Nurjan, M.A.,Wade Group, Ponorogo 2016.

Drs. H. Abu Ahmadi, Drs,Widodo Supriyono, PT Rineka Cipta, Jakarata 2003



Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGAMA DAN POLITIK DI INDONESIA SEBELUM DAN SESUDAH AMANDEMEN 1945

A. Pengertian Amandemen dan tujuannya  Amandemen adalah tindakan penambahan atau perubahan yang diterapkan pada konstitusi suatu negara, dan perubahan ini harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari naskah konstitusi asli. Di Indonesia, amandemen dalam UUD 1945 harus dilakukan dengan berpedoman pada aturan dan kesepakatan dasar.Penting untuk dicatat bahwa amandemen UUD 1945 harus memastikan beberapa hal, termasuk tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan NKRI, mempertegas sistem pemerintahan presidensial, dan memasukkan penjelasan yang semula terletak di luar naskah ke dalam pasal-pasal atau batang tubuh.Proses amandemen UUD 1945 dijalankan secara bertahap, dimulai dengan memberikan prioritas pada pasal-pasal yang mendapatkan persetujuan dari semua fraksi di MPR. Setelah itu, proses perubahan berlanjut dengan menghadapi pasal-pasal yang lebih sulit untuk mencapai kesepakatan. Alasan diadakannya amandemen yaitu:  Pertama, Secara filosofis. Didalam pandangan ini...

Butir Pengamalan Sila Ketiga dalam TAP MPR

  Butir Pengamalan Sila Ketiga dalam TAP MPR Nomor I/MPR/2003 Pengamalan nilai-nilai pancasila sila ketiga dijabarkan dalam butir-butir sesuai TAP MPR Nomor I/MPR/2003, sebagai berikut: Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi serta golongan Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara serta bangsa apabila diperlukan Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Nilai persatuan dalam sila ketiga Pancasila juga harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa contoh penerapannya: Penerapan nilai persatuan di rumah a. Menanamkan jiwa dan semangat...

Butir Pengamalan Sila Kelima dalam TAP MPR

  Butir Pengamalan Sila Kelima dalam TAP MPR Nomor I/MPR/2003 Butir-butir sila kelima Pancasila melalui TAP MPR Nomor I/MPR/2003 sebagai berikut: Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan Mengembangkan sikap adil terhadap sesama Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban Menghormati hak orang lain Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum Suka bekerja keras Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Berikut adalah beberapa contoh penerapan nilai keadilan dalam berbagai lingkungan. Penerap...