Langsung ke konten utama

Makalah Akhlak

 BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN AKHLAK

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan kata 'akhlak' berarti budi pekerti, tabi'at, kelakuan, watak. (Tim Penyusun Pusat Bahasa Depdiknas, 2008: 28) Secara etimologi, kata 'Akhlak' berasal dari bahasa Arab 'akhlaqun' merupakan bentuk jamak dari kata 'khuluqun'  yang diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi'at, kebiasaan, tata krama, sopan santun, adab dan tindakan. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan kata 'khalqun' yang berarti kejadian serta erat hubungannya dengan 'Khaliq' yang berarti menciptakan, tindakan atau perbuatan, sebagaimana terdapat kata "al-Khaliq" artinya pencipta dan 'makhluq' )artinya yang diciptakan.  

Meskipun kata akhlak berasal dari bahasa Arab, ironisnya kata akhlak sedikit sekali ditemukan di dalam Al-Qur'an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadits. Satu-satunya kata yang ditemukan semakna akhlak dalam Al-Qur'an adalah bentuk tunggal, yaitu 'khuluqun' tercantum dalam surat Al-Qalam (68): 4.yang artinya:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung" (QS. Al-Qalam [68]:4) 

Sedangkan hadits yang sangat populer menyebut akhlak adalah hadits riwayat Baihaqi:yang artnya:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Baihaqi: 7609)

Dilihat dari segi terminologi 'akhlak' menurut beberapa pakar yang berpendapat :

a. Abu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Ya'qub Miskawaih

"Akhlak ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu." (Abu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Ya'qub Miskawaih, 1934:40)

b.Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali

"Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memer lukan pemikiran pertimbangan". (Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali, 56)

c.Ibrahim Anis

"Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan." (Ibrahim Anis, 1972: 202)

d. Ahmad Amin

"Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak." (Ahmad Amin, 1967:50)

e. Al-Qurthuby

"Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan termasuk bagian dari kejadiannya." (Al-Qurthuby, 1913: 6706)

f.Muhammad bin I'lan Ash-Shodieqy

Adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah (tanpa dorongan dari orang lain)." (Muhammad bin I'laan Ash Shodieqy, 1971: 76) 

Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah tabi'at, sifat seseorang atau perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya yang sudah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar sudah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan serta di angan-angan lagi. Maka dari itu gerakan spontan. Sebab akhlak merupakan 'kehendak' dan 'kebiasaan' manusia yang menimbulkan kekuatan-kekuatan yang sangat besar untuk melakukan sesuatu. Kehendak merupakan keinginan yang ada pada diri manusia setelah dibimbing, dan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah untuk melakukannya. Oleh karena itu faktor kehendak atau kemauan memegang peranan yang sangat penting sebab dengan adanya kehendak tersebut telah menunjukkan adanya unsur ikhtiar dan kebebasan, yang karenanya dapat disebut dengan 'akhlak'.

Secara substansial bahwa perbuatan yang termasuk akhlak mempunyai lima ciri antara lain:

1. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadian.

2.Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.

3. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.

4. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara, seperti dalam film.

5. Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khusus akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah SWT, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.

B. Sumber Akhlak

Sumber yang menentukan akhlak dalam Islam apakah itu akhlak yang baik atau akhlak yang buruk, sebagaimana keseluruhan ajaran Islam lainnya yang menentukannya adalah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW bukan baik dan buruk menurut ukuran manusia. Jika baik dan buruk itu berdasarkan ukuran manusia, maka baik dan buruk itu bisa berbeda-beda. Seseorang mengatakan sesesuatu itu baik tetapi belum tentu orang lain mengatakannya baik, begitu juga sebaliknya, seseorang menyebut sesuatu itu buruk, padahal yang lain bisa saja menyebutnya baik. Kedua sumber ajaran Islam yang pokok itu (Al-Qur'an dan sunnah) diakui oleh semua umat Islam sebagai dalil naqli yang keduanya sampai sekarang masih terjaga keautentikannya, kecuali sunnah nabi yang memang dalam perkembangannya banyak yang ditemukan hadits-hadits yang tidak benar (dha'if/ palsu). Melalui kedua sumber inilah umat Islam dapat memahami dan mengetahui sifat-sifat mana yang baik maupun yang buruk, mana yang mulia dan mana yang tercela.

Dalam konsep akhlak, segala sesuatu itu di mulai baik atau buruk, terpuji atau tercela, semata mata karena syari'at (Al-Qur'an dan Sunnah) menilainya demikian.

Hati nurani atau fitrah dalam bahasa Al Qur'an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki fitrah bertauhid, mengakui ke-Esaan-Nya sebagaimana terdapat dalam QS. Ar-Rum [30]: 30. Yang artinya:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Karena fitrah itulah manusia cinta kepada kesucian dan selalu cendrung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran ajaran Tuhan, karena kebenaran itu tidak akan didapat kecuali dengan Allah sebagai sumber kebeneran mutlak. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh pendidikan dan lingkungan fitrah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Betapa banyak manusia yang fitrahnya tertututup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi melihat kebenaran. Oleh sebab itu ukuran baik dan buruk tidak dapat diserahkan sepenuhnya hanya kepada hati nurani atau fitrah manusia semata. Harus dikembalikan kepada penilaian syari'at. Semua keputusan syari'at tidak akan bertentangan dengan hati nurani manusia, karena kedua-duanya berasal dari sumber yang sama yaitu Allah SWT.

Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Dia hanyalah salah satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan. Dan keputusannya bermula dari pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh karena itu keputusan yang diberikan   akal hanyalah bersifat spekulatif dan subjektif.

Demikianlah tentang hati nurani dan akal pikiran, bagaimana dengan pandangan masyarakat? Pandangan masyarakat juga bisa dijadikan salah satu ukuran baik dan buruk, tetapi sangat relatif tergantung sejauh mana kesucian hati nurani masyarakat dan kebersihan pikiran mereka sudah dikotori oleh sikap dan prilaku yang tidak terpuji tentu tidak bisa dijadikan ukuran. Hanya kebiasaan masyarakat yang baiklah yang bisa dijadikan ukuran.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa ukuran yang pasti (tidak spekulatif), objektif, komprehensif dan universal untuk menentukan baik dan buruk hanyalah Al-Qur'an dan Sunnah, bukan yang lainnya

C. Ruang Lingkup Akhlak

 Ruang lingkup dari akhlak  dapat di klsifikasikn dalam dua aspek yakni; 1.ruang lingkup akhlak  dari aspek hubungnnya dan 2. Ruang lingkup akhlak dari aspek sifatnya

 Yang mana dari kedua spk ini mencakupi aspek kehidupan manusia, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk Allah, individu, makhluk sosial dan makhluk penghuni alam dan mendapatkan bahan kehidupan darinya. Dengan kata lain, akhlak meliputi; akhlak pribadi, akhlak keluarga, akhlak sosial, akhlak politik, akhlak jabatan Akhlak secara global juga dapat dipilih menjadi akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) dan akhlak tercela (al-akhlaq madzmumah).

1. Ruang Lingkup Akhlak Dilihat dari Sisi Hubungannya 

a.Akhlak manusia kepada Sang Khaliq (Allah)

 Hubungan sang pencipta dengan yang diciptakan adalah suatu hubungan yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah SWT, mustahil bisa berlepas diri dari keterkaitan dengan Nya. Bagaimanapun tidak percayanya manusia dengan Allah, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar manusia akan mengikuti sunatullah yang berlaku di alam semesta ini. Oleh karena itu seorang mukmin harus memahami bagaimana hubungan yang seharusnya dibina dengan Allah SWT, sebagai rabb-Nya dan ilahi Nya. Hal yang perlu dibina adalah berakhlak dengan akhlak yang baik kepada Allah SWT, maka manusia harus menuruti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sekurang-kurangnya ada empat alasan. mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah:

1) Karena Allah yang menciptakan manusia

2) Karena Allah yang memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, pengelihatan, akal, pikiran dan hati sanubari. Di samping anggota badan yang kokoh dan sempurna pada manusia.

3) Karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air,udara, binatang dan ternak dan lain sebagainya.

 4) Allah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan untuk menguasai daratan dan lautan.

b. Akhlak dengan sesama manusia Manusia adalah makhluk sosial,

yang saling membutuhkan, maka dari itu perlu dibangun dan dipebaiki kerusakan kerusakan dalam Islam termasuk kewajiban memperhatikan kehidupan antara sesama orang-orang beriman. Kedudukan seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu jasad, dimana satu anggota badan dengan anggota badan lainya mempunyai hubungan yang erat. Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam perkara:


1) Apabila bertemu dengan sesama maka ucapkanlah salam

2) Apabila mendapat undangan hadirilah 3) Apabila meminta nasihat maka nasihatilah

4) Apabila bersin maka do'akanlah

5) Apabila ada yang sakit maka jenguklah

6) Apabila ada yang meninggal dunia maka kuburkanlah

Akhlak terhadap sesama manusia ini berlaku untuk setiap manusia, saling tolong menolong Karena dengan kondisi masyarakat yang mayoritas berakhlak dengan akhlak yang baik, maka ketenteraman, kenyamanan, ketenangan dan sebaginya akan tercapai dan itulah sebuah persatuan yang harus dijaga antar sesama muslim.

c. Akhlak dengan diri sendiri

Diri sendiri juga membutuhkan perilaku yang baik yang positif untuk diri sendiri. Pemeliharaan akhlak kepada diri sendiri dapat diwujudkan dengan baik. Seperti makan, pakain, dan tempat tinggal. Hendaknya masing masing individu harus mampu bertanggung jawab dengan dirinya masing-masing. Dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang sesuai dengan apa yang ia butuhkan.

d. Akhlak terhadap lingkungan

maksudnya dalam berakhklak baik itu bukan hanya saja terhadap manusia saja,melainkan harus dan senantisa  dimaksud dengan lingkungan disini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda tak bernyawa. Dasar yang dijadikan pedoman akhlak terhadap lingkungan adalah tugas kehalifahannya di bumi yang mengandung arti pengayoman, pemeliharaan serta bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya .

2. Ruang Lingkup Akhlak Dilihat dari Sisi Sifatnya Dari segi sifatnya, akhlak dikelompokkan menjadi dua, yang pertama, akhlak yang baik, atau di sebut juga akhlaq mahmudah (terpuji) atau akhlaq karimah; dan kedua akhlak yang buruk atau akhlaq madzmumah.

 a. Akhlaq Mahmudah 

  Akhlaq mahmudah atau terpuji ini dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula. Sifat yang terpuji yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadu', taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, dan qana'ah, khusyuk dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri, silaturrahim, menghargai orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah, suka menolong kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup bersih, menyayangi binatang, dan menjaga kelestarian alam.

b. Akhlaq Madzmumah

Akhlaq madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia. Sifat yang termasuk dalam akhlaq madzmumah adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlaq mahmudah, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur, ria, dengki, bohong, menghasut, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah, qati, urrahim, ujub, mengadu domba, sombong, putus asa, kotor, mencemari lingkungan, dan merusak alam.

D. Kedudukan Dan Keistimewaan Akhlak Dalam Islam

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, baik sebagai Individu maupun sebagai anggota masyarakat. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya suatu bangsa atau masyarakat, tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Dalam keseluruhan ajaran Islam akhlak menempati tempat yang istimewa dan sangat penting. Hal ini dapat dilihat seperti di bawah ini:

1. Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul dengan maksud utama untuk membina dan menyempurnakan akhlak, oleh karenanya Rasulullah SAW menempatkan akhlak yang mulia sebagai misi pokok ajaran Islam sebagaimana dinyatakan dalam hadis:yang artinya;

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempur nakan akhlak yang mulia." (HR. Baihaqi: 7609)

Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya di atas mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok dalam menyempurnakan akhlak manusia yang mulia. Misi Nabi ini bukan misi yang sederhana, tetapi misi sangat agung yang ternyata untuk merealisasikannya membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni kurang lebih 23 tahun. Nabi melakukannya dengan pembenahan aqidah masyarakat Arab, kurang lebih 13 tahun, lalu Nabi mengajak untuk menerapakan syari'ah setelah aqidah-nya mantap.

2. Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok kebajikan agama Islam

Rasulullah pernah mendefiniskan kebajikan itu dengan akhlak yang baik (husn al-khuluq). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW.yanga artinya:

"Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alahi wa Salam tentang kebajikan dan dosa, nabi Shallallahu alaihi wa Salam menjawab: «Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dalam jiwamu dan kau tidak mau orang-orang mengetahuinya." (HR. Tirmidzi: 2311)


 

3. Ahklak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya;

"Tidak ada sesuatupun yang akan lebih memberatkan timbangan kebaikan seseorang mu'min nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik." (HR. Tirmizi: 2002)

  Dan orang yang paling dicintai serta paling dekat dengan Rasulullah SAW nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Abdullah Ibn Umar berkata;yang artinya:

"Aku mendengar rasulullah SAW bersabda: maukah kalian aku beritahuakan siapa di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat tempatnya denganku nanti pada hari kiamat?" Beliau mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Lalu sahabat-sahabat menjawabb". Nabi bersabda: yaitu yang paling baik akhlaknya di antara kalian." (HR. Ibnu Hibban: 485)

4. Rasulullah SAW yang menjadikan baik burukanya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya. Hal itu dapat kita perhatikan dalam beberapa hadits berikut ini:

a. Rasulullah SAW bersabda;yang artinya:

"Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paliang baik akhlaknya." (HR. Tirmizi: 2612)

 b.Rasulullah SAW bersabda;yanga artinya:

"Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Seorang sahabat bertanya: "siapa dia (yang tidak beriman itu) ya rasulullah? Beliau menjawab: "orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya." (HR. Bukhari: 6016)

d. Rasulullah SAW bersabda;yang artinya :

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah la berkata yang baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari: 6018

Berdasarkan teks hadits di atas bahwa Rasulullah SAW mengaitkan antara rasa malu, adab berbicara dan sikap terhadap tamu dan tetangga misalnya dengan eksistensi dan kualitas iman seseorang.

5. Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT. Misalnya shalat, puasa, zakat dan haji Perhatikanlah beberapa nash berikut ini:

 a. Firman Allah swt; yanga artinya :

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan perbuatan) keji dan mungkar dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut (29):45)

Sabda Rasulullah SAW; yang artinya:

"Bukanlah puasa itu hanya menahan makan dan minum saja, tapi puasa itu menahan diri dari perkataan kotor dan keji. Jika seseorang mencaci atau menjahilimu moka katakanlah: sesungguhnya aku sedang berpuasa." (HR. Ibnu Khuzaimah: 1996)

Dari beberapa ayat dan hadits di atas dapat dilihat adanya kaitan langsung antara shalat, puasa, zakat dan haji dengan akhlak. Seorang yang mendirikan shalat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan mungkar. Sebab apalah arti shalatnya kalau dia tetap saja mengerjakan kekejian dan kemungkaran. Seorang yang benar-benar berpuasa demi mencari ridha Allah SWT, di samping menahan keinginannya untuk makan dan minum, tentu juaga akan menahan dirinya dari segala kata-kata yang kotor dan perbuatan yang tercela. Sebabtanpa meninggalkan perbuatan yang tercela itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya rasa lapar dan haus semata. Begitu juga dengan ibadah zakat dan haji, dikaitkan oleh Allah SWT hikmahnya dengan aspek akhlak. Ringkasnya, Akhlak yang baik adalah buah dari ibadah yang baik, dan di terima oleh Allah SWT tentu akan melahirkan akhlak yang baik dan terpuji.

Nabi Muhammad SAW selalu berdo'a agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau. Salah satu do'a Nabi Muhammad SAW adalah: 

"(Ya Allah) tunjukilah aku (jalan menuju) akhlak yang baik, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk (menuju jalan) yang lebih baik dari selain engkau. Hindarkanlah aku dari akhlak yang buruk kecuali engkau." (HR. Muslim: 771)

7. Di dalam Al-Qur'an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak, baik berupa perintah untuk berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan kepada orang orang yang mematuhi perintah itu, maupun larangan berakhlak yang buruk serta celaan

dan dosa bagi orang yang melanggarnya. Tidak di ragukan lagi bahwa banyaknya ayat-ayat Al Qur'an tentang akhlak ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan akhlak di dalam Islam.

Demikianlah antara lain beberapa hal yang menjelaskan kepada kita kedudukan keistimewaan akhlak di dalam Islam. (Yunahar Ilyas, 2007: 6-11)

E. Ciri-Ciri Akhlak Dalam Islam

Di samping kedudukan dan keistimewaan akhlak yang telah diuraikan dalam pasal sebelumnya maka akhlak dalam Islam paling juga memiliki lima ciri-ciri khas yaitu (1) Rabbani, (2) manusiawi, (3) universal, (4) seimbang, dan (5) realistik. Berikut ini uraian ringkas kelima ciri-ciri tersebut:

1. Akhlak Rabbani 

Akhlak dalam Islam yang bersumber dari wahyu Allah yang tertera di dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa tujuan para Rasul Allah adalah mewujudkan masyarakat yang berketuhanan (rabbaniyah), yaitu masyarakat yang anggotanya dijiwai oleh semangat untuk mencapai ridho Ilahi, melalui perbutan baik bagi sesamanya dan bagi seluruh makhluk, tidak pantas dan tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia mengajak manusia untuk menyembah kepada selain Allah, yang seharusnya dia mengajak manusia menjadi orang-orang rabbaniyah (yang hanya menyembah Allah SWT dengan ilmu yang sempurna), sebagaimana dijelaskan didalam surat Ali' Imran berikut; yang artinya:

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: «Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.» akan tetapi (dia berkata): «Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS. Ali Imran [3]: 79)

Maka "Rabbaniyah" itu sendiri sama dengan "berkeimanan" dan "berketakwaan" atau lebih sederhana dapat dikatakan "beriman dan betaqwa". Oleh karena iman dan taqwa adalah pondasi dari ajaran Islam bagi kehidupan manusia, maka akhlak rabbaniyah itu adalah akhlak yang bernilai bagi perwujudan dari iman maupun taqwa. 

2. Akhlak Manusiawi

Akhlak manusiawi (al-akhlaq al-ilnsaniyyah), yaitu bahwa ajaran akhlak Islam selalu sejalan dan memenuhi kebutuhan fitrah manusia. Salah satu fitrah manusia adalah memihak kepada kebaikan dan kebenaran, walaupun sering perihakanya itu bertentangan dengan lingkungan dan hasrat nafsunya.   

3. Akhlak universal (al-Akhlaq asy-syamilah), 

Maksudnya adalah bahwa akhlak Islam itu bersifat universal dan sempurna, siapapun yang melaksanakan akhlak Islam dijamin akan selamat. Orang-orang yang non Islam sekalipun kalau melaksanakan akhlak Islam, misalnya tidak berjudi, berzina, selalu berkata sopan, lemah lembut, tidak menyakiti hati orang lain, senang membantu orang lain yang terkena musibah. sabar, dan selalu berterima kasih atas rezeki yang didapat dengan cara yang halal dan lain sebagianya, yang masuk dalam kelompok akhlaq mahmudah, dijamin hidupnya akan bahagia di dunia ini  Akhlak Islam itu telah sempurna, sebagaimana kesempurnaan ajaran Islam itu sendiri. Hal ini dapat dilihat bahwa Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku kepada Allah, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam sekitarnya. Apabila hubungan segitiga, yakni kepada Allah, sesama manusia dan alam telah terjalin dengan baik, maka dijamin terciptanya kehidupan yang harmonis, bahagia, dan damai, baik secara spiritual maupun material.

4. Akhlak Keseimbangan

Akhlak keseimbangan (al-akhlaq at-tawazun), artinya bahwa akhlak Islam berada di tengah tengah antara pandangan yang menghayalkan manusia bagaikan malaikat yang selalu suci, bersih, taat terus kepada Allah, selalu mengikuti apa yang diperintahkan, dan pandangan yang menitikberatkan manusia bagaikan tanah,syetan, dan hewan yang tidak mengenal etika, selalu mengajak kepada kejahatan dan perbuatan perbuatan nista, Manusia dalam pandangan Islam terdapat dua kekuatan dalam dirinya, yaitu kekuatan kebaikan pada hati nuraniya dan kekuatan jahat pada hawa nafsunya. Manusia memilki naluriyah hewaniyah dan naluriyah ruhaniyah mala'ikah. Dua naluri tersebut harus dibimbing oleh akhlak Islam supaya tetap berada dalam keseimbangan. Naluriyah hewaniyah tidak dapat dipisahkan dari jasad manusia, melainkan harus diarahkan untuk disalurkan sesuai dengan prosedur dan aturan aturan dalam Islam . Akhlak Islam menjaga dan memenuhi kebutuhan manusia secara seimbang memenuhi tuntutan hidup secara seimbang. Agar selalu berada pada tingkat kemanusiaan dan menuntun kepada kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat. QS Al Baqarah (2): 201. Bahkan di dalam memenuhi kebutuhan peribadi harus dengan Rasulullah SAW membenarkan ucapan Abu Darda':yang artinya

"Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak yang wajib kau penuhi; dirimu mempunyai hak yang wajib kau penuhi; istrimu mempunyai hak yang wajib kau penuhi; berikanlah orang-orang yang mempunyai hak akan haknya." (HR. Bukhari: 131)

5. Akhlak Realistik

Akhlak realistik (al-akhlaq al-waqi'iyyah), yaitu akhlak Islam  memperhatikan  kenyataan (realitas) hidup manusia. Manusia memang makhluk yang sempurna, memilki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainya, tetapi manusia juga memiliki kelemahan kelemahan. Ini adalah realitas bagi manusia, karena tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Satu sisi ada kelebihan, dan di sisi lain ada kelemahan. Kerja sama, tolong-menolong adalah suatu bentuk kesadaran manusia bahwa dalam dirinya ada kelemahan dan kebaikan. Untuk itulah akhlak Islam mengajarkan untuk menghargai dan menghormati orang lain, melakukan kerja sama atau saling kenal mengenal, kontak komunikasi dengan suku dan bangsa lain.  Yang mana senada dengan firman allaah swt yanga artinya:

 "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al Maidah [5]: 2)


Komentar