Langsung ke konten utama

PENGERTIAN DAN HAKIKAT LOGIKA

PENGERTIAN DAN HAKIKAT LOGIKA

A. Definisi Logika Selaku Penalaran Sistematis

Dalam bahasa sehari-hari, perkataan “logika” dan “logis” menunjuk pada cara berpikir yakni cara berpikir yang masuk akal, wajar, beralasan, dan rasional.

Logika adalah ilmu dan kecakapan menalar, berpikir dengan tepat (the science and art of correct thingking).

Dalam arti teknis atau ilmiah perkataan “logika” dan “logis” menunjuk pada suatu disiplin yakni “disiplin ilmiah/ ilmu”.

Disiplin ilmiah adalah kegiatan intelektual atau kegiatan berpikir yang dipelajari untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman dalam bidang tertentu secara sistematis, rasional, dan terorganisasi yang terikat atau tunduk pada aturan-aturan prosedur (metode) tertentu.

B. Klasifikasi/Pengelompokan Disiplin Ilmiah/Ilmu di Bagi 2 Yakni:

1. Disiplin Empirik

Disiplin empirik adalah kegiatan intelektual yang secara rasional berusaha memperoleh pengetahuan faktual tentang kenyataan aktual, dan karena itu bersumber  pada empiri atau pengalaman.

Pengetahuan yang bersumber pada pengalaman disebut juga pengetahuan“a pasteriori”.

Disiplin empirik termasuk kedalam aliran filsafat empirisme, realisme, positivisme, materialisme.

-Disiplin empirik meliputi: 

Ilmu-ilmu alam yang mempelajari alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia sebagai objek, dan meliputi antara lain fisika, kimia, biologi, geografi, geologi, astronomi, dan lain-lain.

Ilmu-ilmu manusia (ilmu sejarah, ilmu sosial, dan ilmu bahasa)

Ilmu sejarah: mempelajari peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu dan tidak dapat diulang kembali.

Ilmu sosial: mempelajari sesuatu yang menyangkut manusia. 

Ilmu bahasa: mempelajari sistem-sistem lambang sebagai sarana komunikasi dan ekspresi diri yang dikembangkan manusia lewat interaksi antar subjek, yakni sebagai sarana untuk menyampaikan informasi, mengungkapkan perasaan, dan memberikan perintah.

2. Disiplin Non-empirik 

Disiplin non-empirik adalah kegiatan intelektual untuk secara rasional memperoleh pengetahuan yang tidak tergantung pada pengalaman. 

Pengetahuan yang tidak bersumber pada pengalaman disebut juga pengetahuan “a priori”. 

Disiplin empirik termasuk ke dalam aliran filsafat rasionalisme (idealisme).

Disiplin empirik meliputi matematika dan filsafat (untuk lebih jelasnya, uraian ini dapat di baca pada BAB VIII).

-Objek Material dan Formal Ilmu Pengetahuan 

Objek material adalah segala sesuatu yang dipelajari manusia secara rasional sistematis. Objek material ilmu pengetahuan meliputi alam semesta dengan segala isinya, termasuk manusia. 

Objek formal adalah objek material dipandang dari sudut pandang tertentu, yakni dari sudut atau dalam konteks suatu pertanyaan inti serta dengan menggunakan metode tertentu.

-Objek Material dan Formal Logika

Objek material logika adalah kegitan berpikir manusia

Objek formal logika adalah bentuk-bentuk atau pola-pola kegiatan berpikir manusia dan struktur kombinasi pernyataan-pernyataan secara formal (Arif, 2008)

Objek material logika adalah manusia itu sendiri

Objek formal logika adalah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang lurus, tepat, dan teratur yang terlihat lewat ungkapan pikirannya yang diwujudkan dalam bahasa (Hendrik, 1995).

Tempat Logika Sebagai Disiplin Ilmiah

Sebagai suatu disiplin, logika termasuk ke dalam bidang refleksi kefilsafatan. Filsafat sendiri adalah kegiatan intelektual yang secara kristis radikal mencoba memahami hakikat sesuatu, atau sejauh yang dapat dijangkau oleh akal budi mencari sebab-sebab terdalam dari segala sesuatu dengan segala implikasinya, berdasarkan kekuatan akal budi tanpa menggantungkan diri pada otoritas manapun juga. Filsafat dafat dibagai ke dalam metafisika atau ontologi (hakikat hal ada), epistimologi (hakikat pengetahuan dan landasan pengetahuan manusia), logika (hakikat berpikir), etika (hakikat nilai dan perilaku yang baik), dan estetika (hakikat nilai keindahan).

C. Tujuan Dari Logika 

1. Membedakan cara berpikir yang tepat dari yang tidak tepat.

2. Memberikan metode dan teknik untuk menguji ketepatan cara berpikir.

3. Merumuskan secara eksplisit asas berpikir yang sehat dan jernih.

D. Sejarah Logika

Sesungguhnya, sejak Thales (624-548 SM), filsuf Yunani pertama, yang meninggalkan segala dongeng, tahayul dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta, sejak saat itulah ia meletakkan dasar-dasar berpikir logis.

E. Kegunaan Logika

Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis, dan koheren.

Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif.

Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.

Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan.

Bagi ilmu pengetahuan, logika merupakan keharusan. Tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak didasarkan pada logika. Ilmu pengetahuan tanpa logika tidak akan pernah mencapi kebenaran ilmiah. Sebagaimana dikemukakan oleh bapak logika, Aristoteles, logika benar-benar merupakan alat bagi seluruh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pula, barang siapa mempelajari logika, sesungguhnya ia telah menggenggam master key untuk membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGAMA DAN POLITIK DI INDONESIA SEBELUM DAN SESUDAH AMANDEMEN 1945

A. Pengertian Amandemen dan tujuannya  Amandemen adalah tindakan penambahan atau perubahan yang diterapkan pada konstitusi suatu negara, dan perubahan ini harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari naskah konstitusi asli. Di Indonesia, amandemen dalam UUD 1945 harus dilakukan dengan berpedoman pada aturan dan kesepakatan dasar.Penting untuk dicatat bahwa amandemen UUD 1945 harus memastikan beberapa hal, termasuk tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan NKRI, mempertegas sistem pemerintahan presidensial, dan memasukkan penjelasan yang semula terletak di luar naskah ke dalam pasal-pasal atau batang tubuh.Proses amandemen UUD 1945 dijalankan secara bertahap, dimulai dengan memberikan prioritas pada pasal-pasal yang mendapatkan persetujuan dari semua fraksi di MPR. Setelah itu, proses perubahan berlanjut dengan menghadapi pasal-pasal yang lebih sulit untuk mencapai kesepakatan. Alasan diadakannya amandemen yaitu:  Pertama, Secara filosofis. Didalam pandangan ini...

Materi Perkembangan Filsafat Barat

Sejarah perkembangan Filsafar Barat         Perkembangan filsafat barat banyak ditemukan masalah yang telah dientaskan oleh banyak filusuf dimasanya, dan sejalan dengan keadaan itu pula aliran filsafat barat berkembang begitu pesat dan mampu menguasai bahkan mewarnai pemikiran manusia dalam periode tertentu.Sejarah perkembangan filsafat barat itu dibagi kedalam tiga periode, yaitu zaman klasik (yunani), filsafat abad pertengahan dan filsafat abad modern. Berikut akan dijelaskan masing-masingnya: 1.1 Filsafat Zaman Klasik        Hal ini dimulai sekitar tahun 600 SM yaitu di suatu kota bernama yunani yang terkenal dengan para ilmuwan-ilmuwannya. Awal mulanya para filosof Yunani memusatkan perhatiannya pada dunia diluar diri pribadi mereka yakni terahadap alam semesta (cosmos). Melalui ini maka berkembanglah suatu filsafat yang disebut dengan filsafat alam. Dengan ini para filosof mulai memperdebatkan tentang asal mula segala sesuatu yang ada di bumi...

Materi Aliran aliran filsafat Pendidikan Barat dan Karakteristiknya

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Barat dan Karakteristiknya 1) Aliran Progresivisme Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.  Beberapa tokoh dalam aliran ini adalah George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff. Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberlangsungan manusia itu sendiri. Sehubungan dengan hal itu, progresivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter.  Pendidikan yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan-tujuan (yang baik), karena kurang mengharga...